22 July 2016

Mengelola Sistem Pendidikan Pesantren

Alhamdulillahiwahdah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah.
 
Pada suatu hari penulis diajak teman sesama da’i berkunjung ke rumah salah satu ikhwan. Setelah menempuh jarak perjalanan sekitar dua jam naik sepeda motor berboncengan, dengan tubuh yang lumayan pegal-pegal sampai juga kami di tujuan.

Dari jalan raya kami masuk ke sebuah gang sempit yang hanya cukup dilalui sepeda motor. Terlihat sebuah becak lawas terparkir di halaman. Dengan bertembokkan anyaman bambu dan berlantaikan tanah, di atas tanah sewaan, rumah ukuran kira-kira 3×6 meter itu berdiri. Persis di belakang rumah tersebut mengalir sebuah sungai, yang jika hujan, airnya akan meluap. Sehingga rumah tadi menjadi langganan tempat mampir kepiting hingga ular berbisa.

Begitu kami masuk, langsung disambut dengan pelukan hangat persaudaraan. Sejurus tuan rumah bergegas menyiapkan minuman Nutrisari dan menumpahkan biskuit di atas piring, yang nampaknya baru saja ia beli. Kami berusaha menahan beliau agar tidak perlu repot-repot, namun beliau tetap bersikeras untuk menghormati tamunya. Sambil menunggu suguhan, kami tercenung melihat isi rumah yang amat bersahaja itu. Dipan bambu dan lemari yang kayunya telah mengelupas di sana-sini. Kursi plastik, piala juara satu lomba bidang studi milik putra ikhwan tadi dan berbagai aksesori sederhana menghiasi rumah mungil itu. Hampir saja air mata menitik terenyuh, tapi bergegas penulis tahan, khawatir menimbulkan prasangka yang tidak-tidak.

Kemudian kami terlibat perbincangan hangat selama beberapa saat. Di tengah-tengah obrolan terlihat dua anak laki-laki berseragam SMP memasuki pintu belakang rumah. Ternyata mereka berdua adalah putra dari ikhwan tadi. Setelah bersalaman dengan kami, obrolan beralih tentang pendidikan kedua anak tadi.

Sesudah menjelaskan prestasi kedua putranya, di mana sang kakak menyabet rangking satu dan si adik meraih rangking kedua di sekolahannya, diiringi pandangan yang menerawang, ikhwan tadi bercerita. Sebenarnya putra-putranya ingin masuk ke pesantren. Namun, kendala biaya menghalangi impian indah tersebut. Bagaimana mungkin dengan mata pencaharian tukang becak, yang hasilnya bisa untuk makan saja sudah mending, ia bisa membayar uang pangkal masuk pesantren sebesar lebih dari lima juta rupiah! Belum lagi SPP bulanan yang menembus angka setengah jutaan.

Sebenarnya, rekan da’i yang mengantar saya berkunjung ke rumah ikhwan tersebut telah berusaha melobi kesana kemari agar pondok-pondok yang ia kenal bisa berkenan memberikan keringanan. Namun belum menghasilkan harapan yang diinginkan.

Sekelumit kisah tragis, yang saya yakin masih banyak puluhan kisah serupa, yang menyisakan sebuah pertanyaan besar:

Apakah pendidikan hanya milik orang kaya?

Manakala kita buka lembaran perjalanan pondok-pondok salaf beberapa belas tahun lalu, kita akan temukan bahwa biaya pendidikan di dalamnya masih relatif terjangkau oleh kocek para ikhwan, yang memang kebanyakan berkantong tipis. Barangkali karena lembaga tersebut saat itu masih minim fasilitas dan belum memiliki harga jual yang menjanjikan.

Namun dengan berjalannya waktu, tuntutan peningkatan kualitas pendidikan semakin mendesak para punggawa pondok tadi, untuk mau tidak mau menaikkan biaya pendidikan. Mulai dari uang pangkal hingga SPP bulanan.

Memang sih, belum seberapa jika dibandingkan dengan berbagai sekolah favorit orang-orang the have yang uang pendaftarannya puluhan juta, sampai ngalah-ngalahin biaya pendidikan S1. Tapi menurut hemat kami, jika biaya pendaftaran hingga menembus lebih dari angka lima jutaan, tampaknya terlalu berat untuk kebanyakan wali murid. Apalagi yang mata pencahariannya ‘hanya’ buruh bangunan, petani kecil-kecilan, penjual gorengan, tukang becak atau yang semisal. Padahal banyak di antara putra-putri orang-orang ‘kecil’ tadi yang keenceran otaknya tidak kalah dengan mereka yang berumah gedong dan bermobil mewah.

Banyak masalah terselesaikan dengan uang!

Barangkali inilah argumen terkuat yang akan disodorkan manakala kritikan di atas dilontarkan. Betul memang, finansial mutlak dibutuhkan untuk memutar roda kehidupan suatu lembaga pendidikan. Bagaimana tidak, sedangkan pondok harus terus membangun asrama dan kelas, menyediakan fasilitas kesehatan, menggaji para guru dan karyawan, serta seabreg kebutuhan primer lainnya.

Namun, apakah itu semua atau mayoritasnya harus dibebankan kepada orang tua santri? Tidakkah ada solusi lain yang mungkin ditempuh?

BEBERAPA ALTERNATIF PEMECAHAN

Mungkin berbagai ide di bawah ini bisa dijadikan alternatif untuk menemukan jalan tengah yang dianggap ideal bagi pondok dan wali santri. Seandainya pun sudah diterapkan, barangkali masih perlu untuk dimaksimalkan.

1. Memberdayakan unit usaha pondok

Jumlah santri yang puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan, sejatinya merupakan potensi finansial yang sangat besar jika pemberdayaannya tepat, jitu dan jeli. Masing-masing santri pasti memiliki kebutuhan keseharian. Makanan, minuman, sabun, odol, pakaian, bacaan dan pernik-pernik lainnya.
Konsepnya sederhana saja; bagaimana agar uang santri tetap berputar di dalam pondok.

Sebuah pondok besar di Jawa Timur, sebut saja Pondok A, yang telah berumur lebih dari delapan puluh tahun, memiliki santri puluhan ribu dan seabreg ‘prestasi’, hingga saat ini masih bisa bertahan untuk tidak terlalu melambungkan uang pangkal dan SPP bulanannya. Padahal jika mau, bisa saja mengikuti tren sekolah mahal, apalagi pondok tersebut memang sudah memiliki nilai jual yang tinggi. Apalagi memang harga barang-barang kebutuhan pokok semakin hari semakin naik. Ditambah kebutuhan rumah tangga para guru yang juga tidak ada habisnya. Namun demikian Pondok A tetap menahan diri untuk tidak menaikkan biaya pendidikannya secara mencolok.

Rahasianya?

Salah satu kunci keberhasilan mereka dalam menahan lonjakan beban biaya pendidikan santri adalah: kekuatan penghasilan berbagai unit usaha pondok yang terus menyuplai dana.

Tidak tanggung-tanggung, lebih dari dua puluh unit usaha menyokong kehidupan pondok A! Mulai dari penggilingan padi, percetakan buku, toko besi, toko buku, sentral fotokopi, apotik, wartel, toko kelontong, pabrik es, pabrik roti, pabrik air minum, budidaya dan penyembelihan ayam potong, pasar sayur, jasa angkutan, kerajinan sandal, hingga warung bakso!

Beberapa tahun lalu saja, peghasilan unit-unit usaha tersebut yang disetorkan ke pondok tidak kurang dari 6 miliar rupiah/tahun!1

Kekuatan swadana luar biasa, yang sejatinya adalah pemberdayaan potensi santri dan simpatisan pondok secara maksimal

Sudah dicoba tapi sering gagal!

Di suatu kesempatan, saya pernah berbincang lebih dekat dengan tokoh sentral Pondok A, karena kebetulan saya pernah menjadi sekertaris beliau. Di antara pertanyaan yang sempat terlontar, “Setiap ada peluang usaha terbuka, Pondok A selalu berusaha menambah unit usahanya, apakah tidak pernah mengalami kegagalan?”.

Dengan senyum tersungging ia menjawab, “Jelas, kami pernah gagal dan bahkan sering! Tetapi kami tidak pernah merasa kapok atau jera. Justru itu kami jadikan sebagai lecutan untuk terus maju”.
Saya jadi teringat motivasi yang kerap disampaikan para pebisnis yang telah sukses, bahwa keberhasilan besar mereka ‘pasti’ selalu diawali dengan kegagalan. Namun mereka menganggap berbagai kegagalan tersebut sebagai kesuksesan yang tertunda. Sehingga mereka selalu bangkit dan menjadikan kegagalan itu sebagai modal pengalaman yang tak ternilai harganya.

Pernah berapa kali saya berdiskusi dengan beberapa pengasuh pondok pesantren salaf mengenai urgensi kemandirian ekonomi pondok. Rata-rata mengamini pentingnya hal itu. Tetapi untuk memulai mewujudkan idealisme tersebut dalam tatanan praktek nyata masih banyak pertimbangan ini dan itu. Salah satu faktor terbesarnya adalah trauma akan kegagalan yang dulu pernah terjadi manakala berusaha merintis unit usaha.

Segala sesuatu yang memiliki tantangan pasti beresiko. Namun dengan ikhtiar, niat yang tulus dan tawakal kepada Allah insyaAllah gerbang cerah keberhasilan akan menanti di depan!

Memberi pancing bukan ikan

Suatu hal yang patut disyukuri, semakin tumbuhnya kesadaran orang-orang yang dikaruniai Allah kelebihan harta untuk menyisihkan sebagian hartanya guna membesarkan pesantren. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang seakan tidak pernah menghitung sumbangan yang ia gelontorkan. Banyak yang diwujudkan dalam bentuk bangunan masjid, asrama, kelas, hingga tunjangan para santri yang kurang mampu. Semoga Allah berkenan menjadikan itu semua sebagai amal jariah mereka, amien.
Namun, jika dicermati, rata-rata bantuan tersebut akan habis dengan selesainya proyek yang dituju. Lalu pesantren kembali menunggu uluran tangan berikutnya. Inilah yang kami umpamakan dengan memberi ikan.

Barangkali perlu untuk mulai kita pikirkan bagaimana memberi pesantren pancing untuk mengail ikan, bukan memberi ikan yang siap santap. Tujuannya: menumbuhkan kemandirian pondok dan mengurangi ketergantungan kepada bantuan para donatur.

Di antara kalimat yang sering diucapkan Kyai Pondok A, “Manakala tidak ada bantuan datang, maka pondok kami tetap jalan. Dan di saat ada bantuan, maka bukan hanya berjalan, namun kami akan berlari kencang!”.

Para ustadz sudah sibuk!

Siapa yang akan mengurus unit usaha pondok? La wong memikirkan pendidikan santri saja para ustadz sudah kewalahan, koq masih mau dibebani memikirkan warung bakso!

Tentunya, bukanlah para ustadz yang ditugaskan untuk menggiling padi, membungkusi roti, atau mengurusi pembukuan keuangan puluhan unit usaha pondok! Selain bukan bidang keahlian mereka, waktu para ustadz juga sudah habis untuk pendidikan dan pengajaran santri.

Namun, kita perlu memberdayakan SDM ikhwan-ikhwan para sarjana umum yang alhamdulillah tersebar di mana-mana. Berusaha untuk saling mendukung dalam bidang yang ditekuninya. Apalagi banyak dari mereka yang lebih memilih bekerja di tempat yang ‘aman’.

Akan tetapi perlu kehati-hatian, kearifan dan kepiawaian berinteraksi dalam proyek pekerjaan bersama seperti itu. Sebab sering terjadi kerenggangan yang berujung kepada karamnya kapal kerjasama, akibat kekuranghati-hatian dalam bertutur atau bersikap, juga karena kurang ‘mengorangkan’ manusia.

2. Menggiatkan program wakaf dan memberdayakannya

Wakaf merupakan salah satu aset umat Islam yang luar biasa, mampu memecahkan banyak masalah, jika diberdayakan dengan baik dan profesional.

Sebagian kalangan mengira bahwa wakaf itu hanya berupa masjid dan yang serupa. Padahal sebenarnya pengertian wakaf lebih luas dari itu. Bisa berupa wakaf kebun, sawah atau bahkan sumur sekalipun. Sebab definisi wakaf itu sendiri adalah: menjaga aset dan mengalirkan penghasilannya. Karena itu dahulu Utsman bin ‘Affân radhiyallahu’anhu mewakafkan sumur Rûmah untuk kaum muslimin.
Di zaman ini pun, banyak lembaga pendidikan yang tetap eksis berkat sokongan wakaf yang dimilikinya. Antara lain: sebuah universitas di Kairo Mesir yang telah berusia ratusan tahun, bahkan dinilai sebagai universitas Islam tertua di dunia. Walau lembaga tersebut minim subsidi dari pemerintah, namun ia tetap eksis. Bahkan bisa memberikan beasiswa -seadanya- kepada para mahasiswanya. Sebab ia memiliki kekuatan raksasa penyokong, yakni wakaf!

Berbagai institusi pendidikan di Indonesia pun banyak yang mengadopsi sistem kemandirian itu. Di antaranya: Pondok A tersebut di atas. Dengan puluhan atau ratusan hektar sawah wakaf yang dimilikinya, ia bisa mensubsidi kebutuhan beras para santri. Sehingga kebutuhan makan santri tidak mutlak dibebankan kepada SPP mereka. Buahnya; nominal SPP bisa lebih ditekan.

3. Memberdayakan energi santri

Dulu ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, seperti lazimnya siswa SD, saya pernah mengikuti perkemahan di suatu lapangan besar yang diikuti oleh SD-SD satu kecamatan. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya tempat itu, ibarat berubah menjadi pasar malam. Namun ‘pahitnya’, setiap kerumunan orang banyak pasti meninggalkan sesuatu yang bernama sampah, dengan berbagai bentuknya.

Menarik untuk dicermati, hanya dengan waktu kurang dari setengah jam, lapangan yang mirip kapal pecah tadi, bisa kembali bersih seperti semula, tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Ternyata panitia menggunakan siasat kaki seribu.

Para peserta dijejerkan bersaf-saf. Lapisan pertama berjalan sambil merunduk dan memunguti sampah. Jika masih ada yang tersisa, akan disikat oleh lapisan kedua. Hingga lapisan terakhir mungkin cuma bisa menemukan puntung rokok, itupun setelah bersusah payah memelototi rumput di hadapannya. Ya, tanpa menyewa tukang sapu, lapangan kembali hijau nyaris tanpa ‘noda’.

Kumpulan orang banyak memang memiliki energi besar, jika diberdayakan dengan baik dan sistematis.
Dengan memanfaatkan tenaga santri, sebenarnya banyak pengeluaran pondok yang bisa diirit. Tukang sapu, tukang kebun, satpam, penjaga dapur, penunggu kantin, sebenarnya bisa ditangani oleh santri. Sehingga pondok memiliki puluhan ‘karyawan sukarela’.

Wah, waktu santri habis dong!

Kalimat “diberdayakan dengan baik” perlu dicetak tebal di sini. Kita bukan akan membebani santri 24 jam mengurusi tetek-bengek tersebut di atas. Jelas itu akan merubah tujuan utama kedatangan mereka ke pesantren. Namun dengan pembagian jadwal yang baik dan pemerataan tugas, paling-paling, satu santri hanya akan kebagian menyapu satu jam dalam satu minggu, tidak lebih! (Namun jangan lupa, harus ada monitoring dari pengurus. Supaya jadwal tersebut tidak berubah menjadi hiasan dinding belaka, alias ndak jalan).

Adapun, pekerjaan yang lebih berat dan membutuhkan pemikiran serta amanah tinggi, semisal menjaga koperasi, maka bisa diserahkan kepada santri senior pilihan yang lazim ada di suatu lembaga pendidikan. Di luar, biasa diistilahkan dengan OSIS.

Masa santri jadi tukang kebun?!

Sekitar lima tahun lalu, tatkala masih kuliah di Madinah, penulis sempat diamanahi menggemban posisi Mandub mahasiswa Indonesia Universitas Islam Madinah. Kalau di Indonesia, mungkin biasa diistilahkan dengan Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).

Walaupun pekerjaan yang dibebankan tidak banyak-banyak amat, namun tetap menuntut adanya kerjasama dengan mahasiswa lain. Namanya berinteraksi dengan berbagai jenis manusia, selalu saja ada suka dan duka. Sukanya, jika teman yang dimintai bantuan berkarakter ringan tangan. Dukanya, jika rekan yang diajak cenderung jaim (jaga image)nya terlalu besar, alias ogah-ogahan diajak berbuat untuk orang lain.

Ketika penulis lengser dan posisi tersebut digantikan adik kelas, ternyata ia pun mengalami hal serupa dalam suka dan duka. Saat penulis cermati, ternyata banyak di antara mereka yang enggan diajak bekerja, dahulunya ketika di pondok konsentrasinya dalam belajar kurang diimbangi dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat sukarela.

Memberdayakan santri untuk menjalankan ‘pekerjaan rumah tangga’ bukanlah suatu hal yang hina. Justru itu akan mendidik mereka menurunkan gengsi dan memiliki fleksibilitas dalam menghadapi tuntutan keadaan.

Seorang santri yang terjun ke dunia nyata dakwah tertuntut untuk bisa melakukan transformasi diri. Ia harus bisa beradaptasi terhadap tuntutan tugas dakwahnya. Di kehidupan nyata, kerap da’i harus dihadapkan dengan kondisi yang menuntut ia menjadi ustadz, plus tukang sapu, macul sawah, dan pekerjaan-pekerjaan lain, yang barangkali tidak terbayangkan sama sekali saat dulu duduk di bangku pesantren. Dan itu merupakan salah satu tantangan dakwah yang harus dihadapi bukan dihindari. Toh, dahulu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga berbaur dengan para sahabatnya dalam pekerjaan keseharian mereka dan tidak bersikap eksklusif.

Pemberdayaan seperti ini mengandung pendidikan mental dan karakter yang sangat dibutuhkan saat terjun ke masyarakat, dan ditengarai menjadi titik kelemahan banyak lembaga pendidikan salaf yang cenderung unggul dalam bidang keilmuan.

4. Menghindarkan hal-hal yang kurang urgen

Kenyamanan situasi belajar mengajar memang amat diperlukan untuk memperlancar proses transfer ilmu ke diri para santri. Namun seharusnya tidak sampai berlebihan dalam memanjakan santri, sehingga menghilangkan ruh pengorbanan dan kerja keras dalam menimba ilmu.

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah menyampaikan petuahnya, “Ilmu itu tidak didapat dengan bersantai ria”.

Berikut penulis bawakan dua contoh:

a. Penggunaan AC di kamar atau kelas santri

Tidak bisa dipungkiri, bahwa secara umum di negeri kita, AC masih dianggap sebagai barang mahal dan simbol kemewahan. Karenanya, menurut hemat kami, pemasangan AC di seluruh kamar dan kelas santri, bukan sekedar di ruang laboratorium komputer saja, merupakan perilaku berlebih dalam dunia pesantren. Walaupun barangkali ada donatur yang siap untuk menyediakan secara cuma-cuma seluruh unit AC yang dibutuhkan. Namun, tentu tagihan listrik dan biaya perawatan akan membengkak. Ujung-ujungnya santri pula yang akan terbebani pembiayaan tersebut.

Pemakaian AC secara full juga berdampak membiasakan santri untuk berlaku manja serta hidup selalu serba enak. Dan hampir bisa dipastikan akan berpengaruh kepada militansi dakwah mereka, manakala terjun ke dunia nyata perjuangan, yang rata-rata amat jauh dari sesuatu yang beraroma kemewahan. Lagi pula sudah menjadi rahasia umum bahwa peralatan pendingin seperti ini menimbulkan dampak kurang baik bagi kesehatan tubuh.

Ini kota panas bung!

Memang betul, suhu satu kota dengan yang lainnya di bumi pertiwi amat berbeda. Ada yang cenderung dingin dan ada pula yang panasnya menyengat. Namun sepanas-panasnya cuaca kota di Indonesia, sepengetahuan kami tidak sepanas negara gurun pasir di mana AC sudah menjadi kebutuhan primer.
Panasnya suasana pondok mungkin bisa disiasati dengan pengaturan yang baik sirkulasi udara dan ventilasi bangunan pondok. Juga dengan memperbanyak pepohonan yang rimbun di komplek pondok, sehingga terciptalah ASÊ (angin sêgar) alami yang sehat dan gratis.

b. Mewah dalam makanan keseharian santri

Asupan gizi yang mencukupi memang mutlak dibutuhkan agar tubuh dan otak santri bisa fit untuk menyerap pelajaran di kelas. Namun gizi tinggi tidak selalu berkonotasi lauk-pauk yang mahal dan setiap hari piring santri selalu berhiaskan sesuatu yang bernama daging. Protein bisa dipadukan antara yang berbahan dasar nabati maupun hewani.

Selain melatih kesederhanaan hidup santri, hal di atas juga akan bisa menekan biaya bulanan makan santri, sehingga bisa dijangkau oleh semakin banyak orang tua yang menginginkan anaknya belajar di pesantren.

5. Subsidi silang

Tingkat ekonomi para orang tua santri tentu amat beragam. Ada yang pas-pasan, ada yang berlebih dan ada pula yang cenderung kekurangan.

Saling tolong-menolong dalam kebaikan merupakan ibadah yang amat mulia dalam Islam. Allah ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Artinya: “Saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan”. (QS. Al-Maidah: 2)

Di antara potret indah saling membantu: subsidi silang dalam dunia pesantren. Kelebihan yang dimiliki wali santri kaya dialirkan untuk membantu santri yang kekurangan. Entah itu dalam kemasan beasiswa bagi santri yang berprestasi atau dalam bentuk lainnya.

Merupakan suatu hal yang menggembirakan bahwa tidak sedikit pondok-pondok yang telah menerapkan konsep di atas. Hanya saja barangkali kuantitasnya masih perlu untuk ditingkatkan.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam menjalankan subsidi silang ini adalah urgensi transparasi dalam penyaluran dana tersebut. Seyogyanya seluruh wali santri, apalagi yang bersangkutan, bisa mengetahui aliran pendanaan tersebut. Semua harus jelas, rapi, terang dan tidak ada yang ditutup-tutupi.

Laporannya pun ada dan siap saji setiap saat, bukan hanya berdasarkan “kira-kira”. Ini mutlak diperlukan, untuk menanamkan kepercayaan dan menghilangkan prasangka buruk

6. Menggeliatkan gerakan orang tua asuh

Banyak anak cerdas yang sebenarnya ingin sekali masuk ke pesantren, namun karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, mereka terhalang untuk meraih impian indah tersebut.

Dalam kondisi seperti inilah empati orang-orang yang dikaruniai kelebihan harta seharusnya ditumbuhsuburkan.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menasehatkan,

ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ؛ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Bantulah aku untuk mencari dan menolong orang-orang lemah; sesungguhnya kalian dikaruniai rizki dan meraih kemenangan lantaran adanya orang-orang miskin di antara kalian”. (HR. Abu Dawud, dan sanadnya dinilai jayyid (baik) oleh an-Nawawy)

Gandenglah tangan anak-anak malang itu dan sisihkan sebagian rizki Anda untuk mencetak kader da’i dan ulama. Anda tidak tahu, bisa jadi, anak-anak yang Anda biayai itulah yang akan membantu perjalanan Anda kelak di akhirat, manakala kaki Anda terseok-seok keberatan dosa.

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia mati, maka seluruh amalannya akan terputus kecuali tiga. Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak salih yang mendoakannya”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Andaikan menjadi lantaran hidayah seorang manusia saja sudah dianggap sebagai amal salih yang amat utama. Bagaimana jika Anda menjadi lantaran hidayah penduduk satu kampung atau satu kota, melalui perantara putra daerah yang Anda sekolahkan ke pesantren??

Dana yang Anda keluarkan untuk membangun masjid adalah amal yang amat mulia, namun jangan lupa, betapa banyak masjid yang ‘mati’ lantaran tidak ada orang yang menghidupkan shalat berjamaah dan menyemarakkan pengajian di dalamnya. Pembangunan fisik perlu diiringi dengan pencetakan Sumber Daya Manusia yang mumpuni.

Sekedar contoh, kiprah salah satu pengusaha papan atas Indonesia. Dia membuat sekolah unggulan gratis bagi warga miskin berprestasi. Saat ini 400 siswa dia tampung di SMA unggulan tersebut, segalanya bebas biaya, bahkan plus biaya akomodasi dan uang saku! Biaya operasional yang dikeluarkan per bulannya Rp. 500 juta hingga 1 miliar. Semua berasal dari keuntungan berbagai perusahaan yang dimilikinya.2

Andaikan setiap pengusaha memiliki spirit kepedulian serupa. Masing-masing sesuai dengan potensi yang ia punyai. Mungkin tidak lagi tersisa anak miskin di bumi pertiwi ini, yang meneteskan air matanya, karena melihat teman-temannya tertawa riang berlari berangkat ke sekolah, sedangkan dia sendiri harus membantu orang tuanya mencari sesuap nasi…

7. Menyuburkan ruh pengorbanan dalam jiwa tenaga pengajar

Sejak dulu dunia lembaga pendidikan Islam tanah air tidak pernah lekang menggoreskan potret keikhlasan, pengorbanan dan kesederhanaan para punggawanya yang luar biasa.

Ada kiai yang berkata, “Kasur yang kutiduri tidak akan melebihi empuknya kasur yang ditiduri santriku. Makanan yang kusantap tidak akan lebih enak dibanding makanan santriku!”.

Ada pula yang dikisahkan, hingga wafatnya belum memiliki rumah pribadi. Padahal santrinya sudah puluhan ribu, tanah pondoknya telah puluhan hektar dan cabangnya sudah tersebar di seantero penjuru nusantara.

Keberhasilan suatu pondok, tidak bisa dilepaskan dari taufik Allah ta’ala, yang itu akan diturunkan-Nya, antara lain, manakala pengasuh pondok dan para tenaga pembantunya ikhlas dalam menjalankan amanah yang diemban.

Pondok mereka jadikan sebagai ladang untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal menghadap Allah ta’ala kelak. Yang selalu tertanam dalam benak mereka adalah: “Apa yang bisa saya persembahkan untuk pondok? Bukan keuntungan duniawi apa yang bisa saya raup dari pondok?”.
Konsep keikhlasan dalam Islam bukan berarti ustadz diterlantarkan mengajar tanpa ada gaji yang memadai. Bagaimanapun juga mereka juga memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarganya.

Namun demikian, sekurang-kurangnya ada dua poin yang perlu diperhatikan di sini:

Pertama: Apa tujuan utama mengajar di pondok? Untuk meraup keuntungan duniawikah? Atau untuk mengejar pahala ukhrawi? Sedangkan gaji yang didapatkan itu dianggap sebagai karunia kemurahan Allah, yang tidak akan mungkin menyia-nyiakan para hamba-Nya yang berjuang membela agama-Nya.

Pondok dianggap sebagai lahan basah bisniskah, atau sebagai ladang perjuangan?

Pondok diposisikan sebagai imperium keluarga yang kelak dibagi-bagikan kepada ahli warisnya kah? atau dijadikan wakaf kaum muslimin?

Kedua: Pola pikir orang yang beriman, apalagi berilmu, tentu berbeda dengan insan yang minim ilmu agama. Mereka bisa memilah dan memilih mana kebutuhan primer, mana pula kebutuhan sekunder. Harta duniawi yang mereka miliki, hanya dijadikan sebagai tunggangan untuk mengantarkan ke kehidupan abadi kelak.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Beruntunglah orang yang berislam, dikaruniai rizki yang cukup dan dijadikan menerima apa pun yang dikaruniakan Allah”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma.

Tidak lupa beliau juga menggariskan ukuran kecukupan dalam sabdanya,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ؛ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu; seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya”. HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani.

Tidak selayaknya para ustadz terjangkiti budaya hedonisme. Gemar gonta-ganti kendaraan, laptop atau hp, tanpa ada kebutuhan yang mendesak. Namun semata mengikuti tren yang berkembang di masyarakat. Selain hal itu akan menggelembungkan pengeluaran mereka, juga akan menimbulkan imej negatif di mata para mad’u. sehingga sedikit banyak akan mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam berdakwah

Catatan penting

Kata keikhlasan harus selalu dihembuskan ke telinga seluruh jajaran anggota pesantren, mulai dari ‘top manager’ hingga ‘akar rumput’, dan disuntikkan ke hati mereka. Namun hendaknya kata mulia ini tidak digunakan sebagai tameng oleh ‘top manager’ untuk menutupi kekurangannya. Manakala mereka tidak mampu memenuhi kesejahteraan para ustadz, dikarenakan belum berusaha maksimal untuk itu.

Yang benar, berusahalah secara maksimal untuk mewujudkan hal itu. Jika belum juga bisa memenuhi target, maka ruh pengorbanan dan jiwa keikhlasan perlu untuk ditingkatkan oleh seluruh jajaran anggota pesantren. Supaya roda kehidupan pesantren bisa tetap menggelinding dengan baik.

BISIKAN DI TELINGA PARA WALI SANTRI

Jika pembicaraan di atas lebih banyak tertuju kepada para pengasuh pondok dan segenap jajaran pembantunya, maka bukan berarti para wali tidak perlu untuk diberi arahan.

Ketahuilah wahai para orang tua, ustadz-ustadz di pondok telah menguras tenaga dan pikiran, serta mengorbankan waktu mereka demi pendidikan putra-putri Anda. Dan perlu diketahui bahwa proses pengajaran anak bukanlah semata pekerjaan satu pihak. Namun harus ada sinergi antara pihak rumah dan pihak sekolah.

Minimal, Anda memperhatikan kewajiban yang harus dipenuhi terhadap pihak sekolah / pesantren. Hak anak Anda berupa pendidikan dan pengajaran agama telah ia dapatkan, maka jangan lupa penuhi pula hak pondok berupa iuran bulanan. Jadikanlah itu sebagai prioritas utama dalam kehidupan rumah tangga Anda.

Sekedar ilustrasi untuk menggambarkan bahwa sebagian orang tua masih perlu meluruskan skala prioritas pengeluaran mereka, kejadian nyata beberapa saat lalu. Dikisahkan bahwa pengasuh Pondok B di Jawa Timur yang telah terkenal biaya pendidikannya paling murah, suatu hari kedatangan wali santri yang memohon dengan sangat agar uang pangkal sebesar 1,5 juta didiskon atau minimal diundur pembayarannya. Tatkala ditanya tentang alasan, katanya ia baru saja mengeluarkan biaya sekitar 70 juta untuk memasukkan salah satu anaknya ke Fakultas Kedokteran (!!!).

Subhanallah… Sudah sedemikiankah cara pandang sebagian wali santri dalam memilah dan memilih mana pengeluaran yang harus didahulukan?? Bukannya tidak boleh belajar di jurusan umum. Tapi manakah yang harus diprioritaskan? Hadits nabawi berikut mungkin bisa dijadikan sebagai bahan renungan untuk mengoreksi ulang pola berpikir kita.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَةِ

“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat”. (HR. Al-Hakim dalam Tarikhnya dari Abu Hurairah dan dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albany).

Amat disayangkan banyak pesantren yang setiap bulannya, iuran santri menunggak sampai lebih dari 50 %! Para pengasuh pesantren sering dipaksa ‘sport jantung’ memikirkan santri makan apa besok?

Tidak sedikit pula, para wali santri yang menitipkan anaknya di pondok selama bertahun-tahun. Setelah tamat dan merasakan manisnya hasil pendidikan pesantren, dia lupa atau pura-pura lupa, bahwa dia masih memiliki tanggungan SPP yang belum dia lunasi.

Sebagian mereka memandang ringan tanggung jawab materi tersebut, dengan alasan tidak ada perjanjian tertulis mengenai kewajiban menyelesaikan tanggungan itu.

Ketahuilah, bahwa dengan Anda memasukkan putra Anda ke pesantren, berarti otomatis Anda telah terikat dengan kewajiban keuangan itu. Andaikan tidak Anda bereskan, maka akan menjadi hutang yang tidak akan pernah gugur sampai kapanpun jua. Selama belum Anda lunasi atau dibebaskan oleh pihak pesantren.

Bersiaplah, pahala Anda dikurangi untuk dilimpahkan kepada orang lain dan dosa mereka dicabut lalu ditimpakan kepada beban dosa Anda!

EPILOG

Barangkali sebagian kalangan menilai makalah ini terlalu idealis dan tidak sejalan dengan realita. Namun bukankah mimpi indah di atas bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan?

Dengan limpahan karunia taufik dari Allah ta’ala yang tidak berhenti mengalir, kemudian dukungan kerjasama seluruh pihak, insyaAllah kita bisa mewujudkan cita-cita mulia “Membuat lembaga pendidikan Islam berkualitas dengan biaya yang terjangkau”. Atau dengan kata lain “Pesantren yang murah tapi tidak murahan”. Semoga…

Wa shallallahu’ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbih ajma’in…

Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 4 R Tsani 1432 / 12 Maret 2011

1 Manajemen Pesantren, Pengalaman Pondok Modern Gontor, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA (hal. 176-179).
2 Baca: Chairul Tanjung Si Anak Singkong, Tjahja Gunawan Diredja (hal. 257-263).

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, MA.

20 July 2016

Kado Istimewa Erdogan Untuk Sarkozi

Tahun 2010, Presiden Perancis saat itu, Nicholas Sarkozy, mengadakan kunjungan singkat ke Turki, selama enam jam saja. Dalam kunjungan itu, ia menolak datang sebagai seorang Presiden Perancis. Ia lebih memilih untuk berkunjung sebagai seorang ketua organisasi G-20, dimana Perancis sebagai negara ketua G-20 saat itu, dan Turki adalah anggotanya.

Masyarakat Turki dan kaum muslimin secara umum tidak terima terhadap intimidasi dan perlakuan Pemerintahan Sarkozi terhadap Muslim di Francis, lalu perdana mentri Turki kala itu Recep Tayib Erdogan memberikan pelajaran baik bagaimana cara berhubungan dengan Negara besar dengan memberikan hadiah atau kado kenang-kenangan yang mengambarkan kebesaran Turki dari negaranya Francis, dan hadiah ini membuat Sarkozy nyaris tak bisa berkata-kata.

Hadiah kenang-kenangan apa yang diberikan erdogan kepada sarkozy? Hanya sebuah surat yang diambil dari arsip–arsip turki Utsmani, surat ini merupakan surat balasan Sultan Turki Utsmani kala itu Sulaiman Al-Qonuni kepada raja Francis, Francis I yang meminta bantuan Turki Utsmani menghadapi pasukan spanyol yang menyerang negaranya dan menawannya.


Sultan Sulaiman Al-Qanuni

Inilah bunyi surat Khalifah Sulaiman Al-Qanuni kepada Francis I :
Sesungguhnya (surat) itu dari SuIaiman yang isinya, "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang .
Saya penguasa laut putih, laut hitam, laut merah , asia kecil, Kurdistan, Azerbaijan , Negara-negara luar arab, Syam, Mesir, Makkah, Madinah , Quds , dan seluruh jazirah Arab dan Azam, Hongaria, Negara-negara kekaisaran , dan seluruh Negara-negara lain yang ditundukan dengan penuh keagungan .

Segala puji bagi Allah SWT , Allah maha besar

Saya Sultan sulaiman putra sultan Salim putra sultan bayazid
Kepada : Francis I raja Negara Francis

"Kami telah menerima Surat yang diberikan oleh utusan kamu saat kamu menyatakan musuh kamu telah menyerang negara kamu dan kamu telah ditawan dan meminta pertolongan kami untuk membebaskan kamu dari tawanan. Kami dengan ini menerima permohonan kamu dan bersukacitalah dan jangan bimbang, kami penakluk Negara-negara yang sulit ditaklukan, dan penghancur benteng yang kokoh, kuda-kuda kami siang dan malam selalu beringas, pedang kami selalu terhunus, Allah SWT selalu memberikan kami kekutan dan kemudahan ." Rabiul Akhir , 932H/1525M

Daulah Khilafah lalu mengerahkan kekuatan tentara untuk menyelamatkan raja Prancis. Khalifah Sulaiman telah menyelamatkan Prancis tanpa bayaran dan tanpa meminta imbalan. Sang Khalifah telah melakukannya sebagai tindakan persahabatan.

Perjanjian Constantinople yang ditandatangani pada tahun 1536 antara Khalifah Sulaiman dan Raja Perancis telah memberi Prancis konsesi di dalam Daulah Islam yang tidak pernah diberikan kepada negara manapun sebelum itu.

Begitulah , orang yang tahu akan sejarahnya sendiri akan mampu menghargai dirinya sendiri, sedangkan orang yang tidak tahu masa lalunya , ia tidak akan mampu menghargai dirinya sendiri terlebih orang lain.

Betapa kayanya masa lalu kita umat Islam dengan keilmuan, keteladanan, kebesaran , dan keagungan. tak perlu membeo ke barat hanya untuk sekedar kita ingin menjadi besar kembali , cukup kembali ke masa lalu kita . " ummat ini tidak akan menjadi baik kecuali diperbaiki oleh sistem yang dulu digunakan untuk membangun generasi awal" begitulah Imam Malik menasihati kita.

Sejenak Presiden Francis Nikolas Sarkozi tertegun, ternyata kaum Muslimin yg selama ini ia dan rezimnya intimidasi telah menyelamatkan Raja dan bangsanya di masa lalu.
Oleh : Zainal Mutaqin

Sosok Ibu Optimis Tegar dan Hebat


Suatu hari di dalam sebuah obrolan ringan, saya sempat bertanya pada suami, "Ibunya Pak Habibie itu kayak gimana sih ya? Pingin deh tahu tentang apa yg sudah beliau lakukan sampai anaknya 'jadi orang' begitu?". Saya mencoba mencari buku "BJ Habibie, Mutiara Dari Timur" yg pernah saya baca 20 tahun lalu dari rak buku Papa, mencoba menemukan jawabannya, tapi tak ketemu juga buku itu.

Lama waktu berselang, sekitar setahun sejak ngobrol santai itu, suamiku mengirimkan pesan lewat Whatsapp sambil menyertakan secuplik rekaman suara. Rupanya rekaman suara Pak Habibie di acara Mata Najwa edisi Ulang Tahun Pak Habibie ke-80. "Itu jawaban yang dari dulu kamu cari-cari", katanya saat mengirimkan saya rekaman suara itu.

R. A. Tuti Marini Puspowardojo, Ibunda Bacharuddin Jusuf Habibie

Benar saja, di acara Mata Najwa, Pak Habibie bercerita tentang ibunya yang sangat optimis, tegar dan hebat. Pak Habibie mengenang situasi saat ayahnya meninggal dunia, ibunya bersumpah di hadapan halayak yg hadir saat itu bahwa akan membesarkan anak-anak termasuk yg di dalam kandungan dengan tangannya sendiri, serta berjanji akan mengantarkan semua anaknya menjadi orang yg berguna bagi bangsa dan agama. Doa dan tekad seorang ibu optimis.

Pak Habibie juga bercerita tentang pengalaman pertamanya merantau. Saat usia 14 tahun, Rudy Habibie remaja diantar ke pelabuhan untuk merantau ke Jakarta. Saat menyaksikan Rudy Habibie yg menangis tak mau berpisah dengan ibunya, ibu RA Tuti Marni Puspowardojo itu bilang, "Rudy sedih? Mami lebih sedih lagi, tapi Mami harus lakukan ini demi masa depanmu". Lagi-lagi, bu Tuti rupanya bukan tipe ibu-ibu galau seperti saya, yg anak masuk sekolah pertama saja cemasnya minta ampun. Betapa dari cerita Pak Habibie itu, tergambar sangat keberanian dan kebesaran hati seorang ibu optimis. Ditinggalkan suami dengan 8 anak yg masih kecil-kecil, tetapi masih bisa berpikir jernih, tegar, dan visioner. Luar biasa!

Selesai dari Mata Najwa, kehebatan ibu Tuti muncul lagi dalam beberapa scene yg saya saksikan di film Rudy Habibie (Habibie Ainun 2). Bagaimana ia dengan sangat bijaksana membangkitkan semangat Rudy muda saat di titik terendah dalam perjalanan studinya dan kehidupannya di negeri seberang. "Mami yakin Rudy pasti bisa, tunjukkan kamu sebenernya", ucapan sang ibu itu hanya berbalas tangisan pilu sang anak di rantau. Pun ketika ditanya orang tentang Rudy yg akan membuat pesawat terbang, sang ibu dengan gagah dan optimis mengoreksinya "Rudy bukan mau bikin pesawat terbang, tapi INDUSTRI pesawat terbang", katanya mantap.

Sekarang, kita jadi tahu, betapa ada ibu yg luar biasa yg membesarkan seorang Habibie kecil itu menjadi orang yg besar. Doa, optimisme, dan tekad membaja dalam membesarkan anak untuk menjadi orang yg berguna bagi bangsa dan agama, kiranya terkabul sudah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin banyak menjumpai peristiwa serupa Ibu Tuti dan Rudy Habibie tadi. Tak jarang kita dengar kisah dari kawan, saudara, atau orang yg baru kita kenal sekalipun, tentang doa-doa dan harapan seorang ibu pada anaknya yg kemudian menjadi kenyataan. Bahkan kadang, tak perlu jauh-jauh, bisa jadi hal serupa terjadi pada perkataan orang tua kita sendiri.
Saya ingat, ketika dulu berada di kebingungan menjelang lulus SMA, saya bertanya pada Mama tentang kemana saya kelak akan berkuliah. Rupanya Mama dengan penuh percaya diri bilang, "Kata Mama mah teteh nanti masuk UI, jadi alumni UI, pokoknya berprestasi di UI". Lha.. Saya cuma nyengir saja. Sebagai anak SMA di Bandung, UI tidak pernah ada dalam pikiran, cita-cita saya waktu itu kalau tidak ITB ya Unpad. Apa daya ternyata pada akhirnya saya harus akui ternyata Allah lebih ridho pada doa Mama.

Hal yg sama dialami pula oleh suami saya. Dulu, jauh hari sebelum suamiku itu lulus kuliah sarjana, Ibu yg saat itu di Melbourne menemani Bapa di tengah studi doktoral, pernah bekerja sampingan sebagai cleaner di KJRI Melbourne. Waktu itu ibu bilang, "suatu hari Aa akan duduk di sini", sambil menunjuk kursi Konjen Melbourne yg ia bersihkan. Sidqi, suamiku itu rupanya tak pernah bercita-cita jadi diplomat meski ia berkuliah di jurusan hubungan internasional. Menjadi dosen di kota adem ayem sepeti Jogja sepertinya lebih ia senangi, ketimbang menjadi Diplomat - PNS Kementrian Luar Negeri - dan tinggal di kota macet dan padat sepeti Jakarta dan Depok. Lagi-lagi, rupanya Allah mengabulkan doa Ibu untuknya, bukan jadi konjen Melbourne sih, tapi betul terkabul jadi diplomat. Hehe.

Saya jadi berpikir, saya punya doa apa untuk anak-anak saya? Saya punya keyakinan sebesar apa pada masa depan anak-anak saya? Seberapa besar rasa percaya diri saya akan keberhasilan anak-anak saya kelak? Ketika anak saya belum bisa baca sementara anak tetangga sudah bisa, saya galau. Ketika anak saya masih malu-malu tampil di atas panggung sementara anak lain tampil penuh percaya diri, saya cemas. Ketika anak-anak lain seusia anak saya bertubuh lebih tinggi dan besar, saya khawatir. Ketika anak saya bertingkah tak menyenangkan sementara anak lain tampak sangat manis, saya iri. Aaaaah... Dan masih banyak lagi rupanya hal lain yg saya khawatirkan. Sampai-sampai di tengah kesal, sempatnya batin terpikir, "mau jadi apa kau nanti, Nak?". astaghfirullah...

Memang, adalah manusiawi rasanya ketika kita sedih, khawatir, dan mencemaskan masa depan anak-anak kita. Akan tetapi, dari siapa lagi keyakinan itu muncul jika tidak dimulai dari kita sendiri, ibunya, bukan? Seseorang yg telah mengandungnya, melahirkannya, menyusuinya, mendidiknya, menemani hari-harinya, dan seterusnya. Jika kita saja pesimis, pada siapa lagi anak-anak berharap optimisme itu? Padahal, optimisme Ibu kiranya semacam doa tanpa penghalang pada Sang Maha Pengabul Doa. Karena itu, ditengah segala cemas takut dan ragu, tidak kah kita yg seharusnya menjadi orang pertama yg harus yakin akan kesuksesan dan keselamatan ananda untuk dunia dan akhiratnya?
Ibunda Pak Habibie, Mama, dan Ibu, mungkin hanya sedikit contoh kecil saja dari para ibu optimis itu. Optimisme dan doa dari Ibu yg seperti apa? Mungkin tak pada semua Ibu, tetapi ada pada ibu yg syurga tak hanya ada di telapak kakinya, tetapi senantiaa menjaga kebaikan dalam ucapan, perbuatan, dan teladan tingkah lakunya. Kiranya Allah ada bersamanya..

Oleh : Mia Saadah

17 July 2016

Kiat Praktis Agar Anak Hafal Quran Sebelum Usia 7 Tahun

Saudaraku, inilah kiat-kiat praktis mendidik putra-putri kita agar bisa hafal Al Quran sebelum usia 7 tahun. Kiat-kiat ini disampaikan oleh Syaikh Dr. Kamil Al Labudi, 29 Ramadhan 1437 H. Kiat-kiat ini disampaikan beliau berdasarkan pengalaman beliau dalam mendidik ketiga putra/putri beliau agar hafal Al Quran 30 juz. Semua putra/putri beliau hafal Al Quran 30 juz sebelum usia mereka 5 tahun.

  • Anak pertama beliau yakni Tabarok hafal 30 juz ketika usianya 4,5 tahun
  • Anak kedua yakni Yazid hafal 30 juz ketika usianya 4,5 tahun
  • Anak ketiga yakni Zainah hafal 30 juz ketika usianya 5 tahun.
Kiat Praktis Agar Anak Hafal Quran Sebelum Usia 7 Tahun


Berikut ini kiat-kiatnya :

  1. Ketika anak kita lahir, dari usia 1 hari perdengarkan Al Quran setiap harinya 1 juz dan ulangi sebanyak 5 kali.
    Ulangi terus selama satu bulan. Jadi dalam waktu 1 bulan 1 juz di ulang sebanyak 150 kali. Maka waktu yang diperlukan untuk menamatkan memperdengarkan Al Quran sebanyak 30 juz hanya 30 bulan, yaitu 2,5 tahun. Ketika anak kita usianya 2,5 tahun dia sudah mendengarkan Al Quran 30 juz sebanyak 150 kali.
  2. Pilihlah bacaan dari para Masyayikh, para Qori yang terkenal bacaannya fasih, seperti Qori Syekh Mahmud Kholil Al Hushori, Syekh Shiddiq Al Minsyawi, dll. Atau para Qori dari Saudi Arabia, seperti Syekh Ali Al Hudzaifi, Syekh Muhammad Ayyub, dll.
  3. Ketika anak kita sudah tamat mendengarkan bacaan Al Quran 30 juz, maka ajarkan hafalan kepadanya. Sehari setengah halaman atau satu halaman, ulangi setiap harinya sampai 5 kali.
  4. Buat cara yang menarik untuk anak kita agar mau menghafal, berikan hadiah ketika bisa mencapai target.
  5. Doa kepada Allah ta'ala agar dimudahkan dalam membimbing anak kita dalam proses menghafal Al Quran 30 juz.
Dengan metode seperti ini, hanya perlu waktu 1,5 tahun anak kita hafal Al Quran 30 juz. Mudahan-mudahan Allah ta'ala berikan karuniaNya kepada kita semua agar keluarga kita menjadi Ahlul Quran dan semoga putra-putri kita hafal Al Quran 30 juz dan berakhlaq dengan akhlaq Al Quran. Aamiin Yaa Rabb.